Oleh : Reis Madressa
Risalah Rasulullah Muhammad SAW telah 14 abad lebih hadir di tengah-tengah manusia. Selama itu pula, Islam telah memberikan warna yang khas dalam berbagai aspek kehidupan. Bisa dikatakan bahwa tidak ada satu pun aspek kehidupan kaum muslimin di masa sila yang tidak memiliki referensi atau rujukan dari Islam.
Pendidikan adalah salah satu aspek yang mendapatkan warna khas dari Islam. Bangsa Arab yang sebelumnya nomaden dan cenderung biadab, ketika bersentuhan dengan Islam secara pasti berkembang menjadi masyarakat ilmiah. Hanya dalam tempo puluhan tahun, ilmu pengetahuan mewarnai seluruh pojok masyarakat Islam. Hingga akhirnya keadaan ini melahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim di berbagai bidang kajian.
Guru dan Murid di alam kapitalis
Salah satu aspek yang berkaitan dalam pendidikan adalah hubungan antara guru dan murid. Jika kita melihat keadaan dunia pendidikan kapitalis yang berkembang di hampir seluruh bagian dunia, hubungan guru dan murid adalah hubungan yang sifatnya sesaat dan cenderung bersifat materialis.
Yang dimaksud dengan sesaat adalah bahwa seorang siswa melihat pembimbingnya sebagai “ guru “ hanya pada masa pendidikan. Bahkan tidak jarang hanya pada jam belajar di sekolah. Setelah seorang siswa menyelesaikan masa pendidikannya, maka mereka yang dulu pernah mengajarinya bukan lagi dipandang sebagai “guru “ dengan segala konsekuensi tatakramanya.
Bahkan tidak jarang ketika siswa masih dalam masa sekolah, ia tidak memandang pengajarnya sebagai “guru” yang harus ia hormati. Bahkan sering kali terjadi seorang siswa berani melakukan tindak kekerasan terhadap para pengajarnya sendiri.
Dan yang dimaksud dengan cenderung bersifat materialistis adalah bahwa saat ini banyak siswa/wali murid memandang guru sebagai orang yang mencari nafkah dengan mengajar anaknya. Bukan lagi sebagai orang yang “mewakili Allah” untuk mendidik anaknya.
Sebaliknya, guru pun memandang siswa bukan lagi sebagai “amanah Allah “ yang harus ia bina dan didik. Namun sebagai “komoditi” untuk mendapatkan berbagai keuntungan yang bersifat material. Dengan demikian, hubungan antara “guru” dan “murid’ telah termaterialisasi menjadi hubungan ekonomi. Wali murid membayar guru agar mau mempersiapkan dirinya untuk memasuki dunia kerja. Sementara guru guru pun mengajar muridnya dengan tujuan utama untuk mendapatkan gaji, tunjangan ataupun insentif. Bukan lagi untuk tujuan ibadah.
Islam dan Etika Guru
Dalam kurun seribu tahun lebih, masyarakat muslim telah mengembangkan sebuah tatakrama/etika pendidikan yang khas. Dengan landasan etika inilah, muncul para ilmuwan muslim yang bukan hanya memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni, namun juga kapasitas akhlak yang memukau. Berikut ini beberapa etika guru dalam hubungannya dengan murid dalam komunitas ilmuwan Islam yang sebagian kami nukilkan dari kitab, “ Adabul ‘Alim wal Muta’allim” oleh Syaikh Hasyim Asy’ari.
Pertama, Seorang guru dalam mengajar muridnya hendaklah berniat semata-mata untuk menggapai ridho Allah SWT. Bukan menjadikan ilmu sebagai alat/komoditi perekonomian.
Etika ini berangkat dari hadist Rasulullah SAW,” Amal itu hanya tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan dari apa yang diniyatkannya” ( H.R. Bukhari dan Muslim ).
Alhamdulillah, di tengah gempuran pola hidup yang kapitalis dan materialis saat ini, masih ada lembaga-lembaga pendidikan Islam yang konsisten dengan doktrin keikhlasan ini. Bahkan di Syiria, Makkah, Pakistan, India dan beberapa bagian dunia Islam masih banyak ditemui lembaga-lembaga pendidikan yang membebaskan muridnya dari biaya pendidikan. Bahkan di Makkah, Al marhum Syaikh Muhammad Alwi Al Maliki bukan hanya membebaskan mahasiswanya dari biaya, namun juga memberi mereka uang saku. Di Syiria, seorang Syaikh bahkan memberikan beasiswa bagi mahasiswanya di mana beasiswa tersebut mencukupi untuk menghidupi seorang mahasiswa beserta isteri dan anaknya.
Kedua, walaupun seorang murid harus ikhlas dalam menuntut ilmu, namun seorang guru hendaknya tetap mengajar mereka sambil terus membimbing mereka untuk ikhlas dalam menuntut ilmunya. Seorang Ulama berkata, “ Kami dahulu menuntut ilmu dengan tidak ikhlas, namun akhirnya kami bisa ikhlas karena keberkahan ilmu kami”.
Ketiga, seorang guru hendaknya mencintai muridnya sebagaimana seorang guru mencintai dirinya sendiri. Seorang guru hendaknya juga tidak menyukai sekecil apapun musibah menimpa muridnya sebagaimana ia tidak menyukai jika musibah tersebut menimpa dirinya.
Keempat, seorang guru hendaknya bersikap kepada muridnya dengan baik dan santun. Syaikh Hasyim Asy’ari bahkan mengatakan bahwa seorang guru hendaknya bergaul dengan muridnya sebagaimana ia bergaul dengan anak-anak kandungnya yang paling baik.
Jika seorang murid lemah semangatnya, seorang guru hendaknya tidak bosan-bosan untuk memberikan motivasi. Jika seorang murid terlalu bersemangat, seorang guru hendaknya bias mengenalikan semangat tersebut agar tidak menimbulkan kebosanan. Dan jika seoran murid bersalah, seorang guru sebisa mungkin memaafkan dan membimbing kea rah yang lebih baik.
Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru. Jika seorang murid melakukan seringkali kesalahan dan menularkan kesalahan dan pembangkangan tersebut kepada teman-temannya, maka seorang guru tidak perlu ragu untuk mengeluarkan muridnya tersebut dari majelisnya. Hal ini demi menjaga murid-murid yang lain dari pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh murid yang membangkang tersebut. Walaupun demikian, seorang guru hendaknya tetap mendoakan murid yang dikeluarkan tersebut agar ia mendapatkan jalan yang lurus suatu saat nanti.
Kelima, seorang guru dalam mendidik dan mengajar menerapkan doktrin “ Selama sesuatu bisa dipermudah, hendaknya dipermudah. Bukan dipersulit”. Karena itu, seorang guru hendaknya mengajar dengan kata-kata serta metode yang mempermudah pemahaman muridnya. Bukan mengejar hal-hal yang dianggap canggih, namun justru mempersulit muridnya dalam belajar.
Keenam, seorang guru hendaknya memiliki tekad yang kuat untuk mengantarkan muridnya untuk mengantarkan muridnya memahami pelajaran. Bahkan untuk mengantarkan muridnya mencapai kesuksesan di masa depan. Bukan sekedar memenuhi kewajiban terhadap jam pelajaran dan setelah itu selesai.
Ketujuh, Seorang guru hendaknya banyak memperhatikan keadaan muridnya dan selalu mendoakan keselamatan mereka meskipun muridnya tersebut sudah tidak lagi belajar kepadanya. Karena itulah, tidak berlebihan jika dalam sebuah riwayat, ada seorang ilmuwan Islam yang menghabiskan nyaris seluruh malamnya untuk mendoakan kesuksesan bagi murid-muridnya di masa depan.
Satu hal lagi, seorang guru janganlah sekali-kali mengharap atau mendoakan keburukan menimpa muridnya. Betapapun mereka telah menyakiti dirinya. Hal ini sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah SAW ketika beliau ditolak dan disakiti oleh penduduk Thaif. Beliau tidak mengutuk mereka. Malah beliau mendoakan agar mereka mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.